Showing posts with label Jogja. Show all posts
Showing posts with label Jogja. Show all posts

Tuesday, May 15, 2012

Senja Pantai Gua Cemara: Iseng Membawa Keindahan

Senja Pantai GUa Cemara Yogyakarta sepotong senja untuk pacarku
Pantai Gua Cemara namanya, pantai berpasir hitam di pesisir selatan Jogja. Sebelah timur Pantai Kwaru, dekat menara mercusuar. Kami tak sengaja mengunjungi pantai ini. Oh ternyata, pantai ini menyimpan sepotong senja yang indah. Senja terindah yang pernah saya saksikan.

Sore itu resah (bahasa popnya “galau”) sedang melanda, tiba-tiba saja saya layangkan pesan pendek ke Fajar, sahabat baikku. “Ayo ke pantai.. liat sunset, lagi suntuk!” dan ajakan pun bersambut. Diantara waktu yang mepet untuk menghantar senja dan jarak yang lumayan, kami tekadkan untuk berangkat. Seperti mengiyakan ajakan spontan ke warung makan atau warung kopi. Tanpa repot-repot membawa bekal atau mempersiapkan apapun.

Thursday, November 10, 2011

Soto Soerabaja

Suasana di "Soto Soerabaja"
Jogja kota multikultur, begitu kata beberapa orang yang saya temui. Jogja mempunyai iklim yang nyaman untuk belajar dan berkebudayaan, tentu saja hal ini mengundang banyak orang untuk memilih jogja sebagai tempat menimba ilmu.

eh, apa hubungannya ya? okei.. sebagai kota multikultur tentu saja bukan hanya orang-orang dari  pelbagai daerah  yang ada di Jogja, tapi juga masakan dari  pelbagai daerah dan beberapa negeri ada disini. Tak terkecuali, Soto Surabaja yang  ada di Jl. Veteran depan XT Square, orang Madura menyebutnya "Surbejeh" alias Soerabaia :)

ini dia sotonya.. slurrppp..
Bagi orang Jawa Timur yang rindu akan masakan daerah bisa menjajal Soto Soerabaja, rasanya dijamin tak ada bedanya dengan soto ayam yang kita makan di Jawa Timur, benar-benar maknyuss. Seperti namanya, warung ini hanya menyediakan menu soto.

Soto  Soerabaja tidak hanya menjual rasa makanannya, tapi juga suasana tempat yang nyaman  bertema "tempo doeloe." Di warung ini foto-foto suasana kota Indonesia tempo doeloe dipajang. Dan... yang membuat saya makin jatuh cinta adalah foto kuno besar orang-orang dahulu makan soto di emperan. Ah.. yang lama memang selalu baru, yang dahulu selalu terkenang.

Makan soto seharga 6000 rupiah tentu sebanding dengan rasa di lidah dan suasana nyaman di hati yang kita dapatkan. Ayo mencoba :)

Tuesday, July 5, 2011

Jogja: kampung halaman keduaku

Merapi (jupri.wordpress)

Simbol filosofis (ajengsekar.blogspot)

Saya pertamali mendatangi jogja dulu sewaktu liburan SMA kelas 2 tahun 2003, saat itu sedang ada pesta akbar Pramuka se-Indonesia di Prambanan. Ya, saya termasuk dalam salah satu anggota kontingen putri Kota Malang. Saya berkesempatan untuk tinggal, jalan-jalan dan berpesta selama 10 hari di Jogja dan Magelang.

Kunjungan kedua saya saat kelas 3 SMU ketika mengadakan studi tour kearah Barat, jatuhlah pilihan pada Ngawi, Solo, Jogja dan pulang kembali menyusuri daerah pantai Utara Jawa karena kami merencanakan ziarah ke makam para Wali. Kedua kunjungan saya ke jogja belum membuat jatuh hati sepenuhnya. Baru ketika saya jatuh cinta pada orang asli Jogja saya semakin menggilai kota ini. Kota nyaman untuk belajar, berbudaya dan membaca buku.

Saya memutuskan memilih salah satu universitas di Jogja dan mengambil studi Tafsir&Hadis di Universitas Sunan Kalijaga. Kenapa musti Jogja? alasannya klise, karena orang tua tidak mengijinkan saya memilih Jakarta->> sarang penyamun. hmmm jawaban lainnya karena saya ingin mencicipi manisnya jalan-jalan di Jogja seperti yang dulu pernah saya rasakan dan menjelajah. 

Tuesday, June 28, 2011

Keroncong ala Kadarnya

keroncong seadanya

Malam ini, saya bersama kawan, menyempatkan waktu untuk menjawab rasa penasaran saya terhadap aksi keroncong di RT sebelah yang digelar setiap malam Sabtu. Sesampai di lokasi saya sempat bingung dan terheran-heran, ada spanduk tulisan 'Paguyuban Keroncong' namun justru lagu campursari yang terdengar. Di lokasi hanya ada beberapa bapak-bapak duduk santai sambil menunggu giliran bernyanyi (mirip suasana karaokea deh.. ^^). Beberapa menit setelah lagu campursari habis barulah saya mendengar 'tanah airku', lagu keroncong yang sering dilantunkan diva keroncong Sundari Sukotjo.

Tak lama kemudian bapak yang sedang berada di panggung mempersilakan saya dan kawan untuk duduk bersama warga lainnya menikmati malam keroncong.

Saya juga sempat bingung tidak melihat ukulele, biola, gitar, sitar dan peralatan standar lainnya. Di panggung sederhana hanya ada orgen tunggal yang dimainkan bergiliran dan mic ^^. Hmmmm... meski dengan peralatan seadanya, mereka tetap nyaman dan terhibur (hhehe daripada ke karaokean musti sewa).

Diantara gempuran musik televisi mereka tak melupakan Keroncong, musik asli Indonesia. Meski tidak seperti keroncong asli, semangat mereka untuk tetap melestarikan budaya patut diacungi jempol. Mereka membangun kesadaran kolektif untuk menjaga warisan musik keroncong dan menularkannya pada keluarga, anak dan cucu.

bagaimanapun caranya yang penting keroncong.... The Music of my country

Wednesday, June 22, 2011

Menikmati Jazz ala Jogja

atmosfir bernyanyi @jazz mben senen


Alunan saxophone, piano, bass, gitar dan gebugan drum bergema di area Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) setiap senin malam. Karena itu, pagelaran jazz ini dinamai 'Jazz mben senen'. Pengunjungnya bukan orang-orang berdasi atau berpakaian necis, cukup dengan sandal jepit pun sudah sah menghadiri pagelaran ini. Itulah istimewanya hiburan ala jogja..sangat bersahaja.

Setiap Seninnya pegelaran ini dimulai setiap jam delapan dan hampir tak pernah absen di hari senin. Pagelaran Jazz mben senen tidak dipungut biaya alias gratis bagi para penontonnya. Tapi ada kotak saweran alias kotak todongan seikhlasnya yang diputer. Dari hasil sawearan itulah mereka membiayai biaya operasional pagelaran. Makanya gratis...^^

Jazz mben senen bukan hanya tempat musisi yang sudah mahir ngejam, banyak diantara pemainnya yang masih dalam tahap pemula bahkan amatiran. Banyak pula musisi muda yang memanfaatkan pagelaran ini untuk belajar dan berbagi soal teknik ngejazz yang benar. Jadi jangan kecewa kalau kadang suara musiknya terdengar kurang enak di telinga. Atau terdengar aneh karena faktor lain.

Permainan musik jazz memang unik, bebas berekspresi namun ada aturannya masing-masing. setiap pemain bebas berimprovisasi dan saling menghormati dengan memberi kesempatan pemain lainnya untuk unjuk kebolehan. Mendengar jazz sama halnya mendengarkan percakapan yang tak terduga, itu kata Seno Gumira. Hmm.. selebihnya di balik Jazz banyak hal yang bisa kita pelajari.

mari kita mencari

Penggebuk drum cilik beraksi


Sunday, June 19, 2011

Kangen Pertunjukan yang Mencerahkan

(dari rumahmimpi.net)

Saat "Laskar dagelan" pentas di rumah sendiri kemaren  di Taman Budaya(14/6/2011). Saya juga ikut penasaran dengan aksi panggung mereka. Ternyata sangat menghibur, lucu khas guyonan Jogja yang kaya kosakata plesetan namun tak kosong dari kritik terhadap peristiwa teraktual. Laskar Dagelan berlatar keseharian masyarakat Yogyakarta pasca guncangan status keistimewaan dengan persoalan individu masing-masing lakon.

Karena jenis pertunjukan drama musikal plesetan, laskar dagelan berkolaborasi dengan group musik hip-hop Kill the Dj yang mengusung Hip-Hop jawa. Lirik-liriknya sangat jawa bahkan mayoritas liriknya diadopsi dari mantra kitab klasik jawa dan paribahasa jawa. Sungguh Jogja...

Salah satu isu yanng diusung Laskar Dagelan adalah status keistimewaan Jogja. Jogja memang istimewa, meskipun pemerintah mengulur status keistimewaan Jogja, Jogja tetap istimewa di mata masyarakat Indonesia. Jogja bukan sekedar kaya dengan budaya tradisional saja, tapi juga membuka diri untuk berbagai budaya dan kesenian. Kota ini terus tumbuh dan menjadi pionir budaya bagi Indonesia. Tidak istimewa dalam hal budaya, Jogja juga memiliki keistimewaan di bidang lainnya.